sejarah bahasa jepang

Bahasa telah menjadi alat komunikasi paling terkenal sejak zaman dahulu. Namun, seiring waktu, sebuah bahasa mengalami penyesuaian karena beberapa faktor, entah faktor eksternal atau faktor internal. Hal itu pun terjadi pada sejarah bahasa Jepang.

Bahasa Jepang atau disebut juga dengan Nihongo telah dituturkan oleh lebih dari 125 juta orang di seluruh dunia. Meski memiliki beberapa kesamaan dengan bahasa Mandarin dan bahasa Korea, bahasa Jepang tetap berbeda dan tidak menyerupai kedua bahasa tersebut.

Sampai saat ini, bahasa Jepang telah melewati beberapa era. Contohnya, jika Anda pernah menonton film The Last Samurai yang berlatar  1887, pasti Anda akan menyadari bahwa dialog atau cara bicara para tokohnya berbeda dengan film-film Jepang yang berlatar masa kini. Oleh karena itu, Pruf Ritz akan mengajak Anda mempelajari perkembangan sejarah bahasa Jepang dari masa ke masa.

Zaman Kodai (13000 BC–600 AD)

Pada zaman ini, bahasa Jepang terbagi menjadi tiga waktu, yakni zaman Jomon, zaman Yayoi, dan zaman Kofun. Manusia baru dapat berinteraksi dengan beberapa interjeksi, demonstratif, dan nomina sederhana pada zaman Jomon. Lalu memasuki zaman Yayoi, budaya manusia telah mengalami perkembangan karena keberadaan rute pengiriman padi dari Birma menuju Jepang sehingga ada pengaruh dari bahasa negara lain. Sementara pada zaman Kofun, ditemukan beberapa tulisan Koukuri, Kudara, dan Shiragi.

Zaman Joudai (600–784)

Awal zaman ini ditandai dengan penerimaan masyarakat Jepang terhadap kebudayaan Cina dengan membuat istana, undang-undang, dan buku-buku berdasarkan kebudayaan tersebut. Oleh sebab itu, sistem penulisan pun berubah, dari kanbun menjadi senmyougaki, yakni kanji yang dibaca secara kana. Ada juga perbedaan dialek seperti dialek Yamato dan Azumano Kuni.

Selain itu, telah ditemukan beberapa karya sastra seperti kojiki, nihonshoki, dan kaifusoo. Kojiki adalah karya sastra tertua di Jepang, tepatnya kumpulan mitos tentang para dewa di empat pulau utama di Jepang. Nihonshoki juga berupa kumpulan mitos, tetapi ditulis menggunakan kanji Cina. Sementara kaifusoo merupakan kumpulan puisi dari Cina yang ditulis oleh orang Jepang asli.

Zaman Chuuko (784–1184)

Kemunculan tulisan katakana dan hiragana membuat karya-karya sastra di Jepang mengalami perkembangan. Contohnya seperti uta monogatari (puisi), tsukuru monogatari (cerita fiksi), rekishi monogatari (cerita sejarah), dan setsuwa (dongeng yang mengandung ajaran Buddha).

Namun, pada zaman ini, terdapat penyederhanaan penulisan dari 88 huruf menjadi 55 huruf dengan seion (rangkaian aksara) 48, sokuon (konsonan ganda) “t”, dan nasal “n”. Terdapat juga kemunculan asimilasi bunyi seperti “i on bin”, “u on bin”, “hatsu on bin”, dan “soku on bin”.

Zaman Chuusei (1185–1333)

Zaman Chuusei terbagi menjadi dua, yakni periode Kamakura dan Muromachi. Pada periode tersebut, Jepang selalu mengalami banyak permasalahan seperti bencana alam dan perang. Karena banyaknya perubahan dalam tatanan kehidupan di Jepang, akhirnya terbentuklah kebudayaan baru dalam bidang seni drama.

Bangsa Spanyol dan bangsa Portugis yang datang ke Jepang pun telah membawa pengaruh pada perkembangan bahasa Jepang. Keadaan itu diawali dengan konjugasi antara shuushikei dan rentaikei. Sementara itu, terdapat pula pencampuran antara bahasa Wago dan bahasa Kango dalam susunan tata bahasa yang bisa dilihat pada buku Heike Monogatari.

Zaman Kinsei (1603–1867)

Pada zaman Kinsei atau zaman pramodern, terdapat politik negara tertutup untuk mempertahankan agama Buddha dari umat Kristiani. Salah satu dampak dari politik tersebut ialah perkembangan bahasa yang ditandai dengan pesatnya seni budaya, terutama karya sastra.

Haiku atau puisi tradisional Jepang menjadi karya sastra yang sangat populer sampai saat ini. Sebelum berkembang, haiku berasal dari kesenian haiku-ranga. Perkembangan inilah yang membuat masyarakat lebih mengenal tata bahasa dan kosakata baru.

Zaman Kindai (1868–1945)

Saat itu, pemerintah Jepang sadar bahwa negara mereka telah mengalami ketertinggalan dengan negara-negara Barat. Oleh karenanya, Pemerintah Jepang banyak memasukkan kebudayaan Barat dan membuat perkembangan pada bidang kesustraan. Hal ini berdampak juga pada penggunaan bahasa dan media massa yang meningkat dengan pesat.

Zaman Gendai (1946–1989)

Penggunaan bahasa pada zaman ini banyak dipengaruhi oleh Amerika. Pengucapan dan penulisan yang dulu merujuk pada kango kanji telah berubah menjadi pengucapan Barat. Bahasa halus untuk Tenno yang ada pada zaman Joudai pun telah dihilangkan, serta terdapat banyak pengurangan pemakaian bahasa laki-laki dan bahasa perempuan di kalangan remaja.

 

Itulah sejarah bahasa Jepang yang perlu Anda pahami dengan baik, terutama jika Anda berniat menjadikannya sebagai bekal untuk penelitian bahasa. Selain itu, jika Anda mengalami kesulitan dalam menerjemahkan bahasa Jepang dalam bentuk dokumen apa pun, Pruf Ritz akan senantiasa membantu Anda.

(Baca Juga: Bahasa Paling Sulit di Dunia)

Leave a comment